Feeds:
Tulisan
Komentar

Kuala Belait

IMG_3069 Kuala Belait adalah sebuah daerah di barat Brunei Darussalam, berbatasan dengan Malaysia. Memasuki kota itu, sebuah monumen seperti di foto ini, terbuat dari perak atau perunggu, bertengger. Entah bagaimana ceritanya sampai tekonya Jin Aladin itu dijadikan sebagai monumen untuk menandakan lambang daerah.

Dibandingkan daerah Tutong, bagi saya, “KB” (bacanya: “Key Bi ” ) lebih menyenangkan. Sebab, ada lebih banyak orang asing di sana. Bangunan-bangunan di sana juga tidak “seragam” bentuknya.

Pada hari tertentu terdapat pasar kaki lima yang menjual aneka kebutuhan dapur. Saya bertemu dengan sejumlah pekerja yang bersepeda di pasar itu. Mereka keliatannya berasal dari India atau Pakistan. Beberapa diantara mereka sedang belanja cabe, bawang merah, bawang putih, dan sayur-sayuran, Sabtu 6 Juni 2009 lalu.

IMG_3063

Mesjid raya di Kuala Belait termasuk yang menarik perhatian. Arsitekturnya menarik. Dari kejauhan tampak seperti ini. Saya sekali saja mampir ke sana untuk shalat Jumat.

IMG_3078

IMG_3074IMG_3057IMG_3056

Seria

IMG_3088IMG_3109IMG_3089IMG_3092

IMG_2827JIKA ke Brunei Darussalam mampirlah ke Seria. Industri minyak Brunei Darussalam dilahirkan dari sana.

Tak heran bila kemudian Brunei Shell Petroleum (BSP) membangun museum Oil & Gas Discovery Centre (OGDC) di Seria, untuk mengenang sekaligus melanjutkan industri yang menghidupkan rakyat negara kerajaan itu.

OGDC berada di area  blok  Seria. Tempat itu, menurut saya, cukup mempesona. Sebab, di situlah ilmu pengetahuan dipertunjukkan secara atraktif, interaktif, dan menarik. Segalanya tentang dunia perminyakan ditunjukkan secara atraktif.

Tak pelak, tempat itu menarik perhatian murid-murid  sekolah serta  masyarakat luas yang tertarik pada iptek serta dunia perminyakan.

Dengan membeli tiket masuk seharga BND $ 5 (Rp.35.000,-)  per orang, saya mengunjungi OGDC Jumat 5 Juni 2009 lalu. Serombongan murid sekolah dasar tampak sedang mencoba memainkan atraksi-atraksi iptek yang interaktif di situ. Sesekali terdengar gelak tawa mereka acapkali mendapati kekaguman.

IMG_2846Ruangan dilengkapi pencahayaan yang menarik dan desain bergaya posmo sehingga tak terasa seperti berada di museum. Berbagai fenomena alam dijelaskan dengan format permainan yang interaktif dimana pengunjung dengan mudah dapat memahami teori-teori fisika yang rumit.

Anda dengan mudah bisa memahami fenomena Lubang Hitam, listrik, magnet, fisika, eksplorasi migas, eksploitasi, hingga soal ilusionis. Mulai dari sebab-sebab terjadinya minyak (hidrokarbon), hingga bagaimana eksplorasi dan eksploitasi dilakukan, dijelaskan dengan maket-maket diorama, serta tampilan audio visual yang menarik.

IMG_2847“The Oil & Gas Discovery Centre (OGDC) menunjukkan komitmen jangka panjang dari Brunei Shell Petroleum Company Sdn Bhd (BSP) terhadap pembangunan Brunei Darussalam dan masyarakat secara berkelanjutan,” tulis pengelola tempat itu dalam situs web nya. Kebawah Duli Yang Maha Mulia Baginda Sultan Hasanal Bolkiah membuka tempat itu pada September 2002.

IMG_2844BSP tak dapat dipisahkan dari sejarah Negeri Melayu Islam Beraja itu. BSP mendapatkan sumur pertamanya di Seria pada tahun 1929, setelah bertahun-tahun sejak melakukan survey di Tutong, yang merupakan area prospeknya ketika itu, menemui kegagalan.  Sumur pertama di Seria ini berkedalaman 297 meter, dan menghasilkan 1 milyar barel hingga ditutup pada tahun 1991.

IMG_2831

Kiprah BSP dalam sejarah Brunei ditampilkan dalam Musium OGDC.

Dan berbekal info dari Musium OGDC pula, saya mencari lokasi sumur tersebut Sabtu siang 6 Juni 2009.

Ada sebuah monumen dibangun tepat di pinggir pantai Seria, tak berapa jauh dari musium OGDC. Dari atas monumen dapat terlihat kapal tanker di kejauhan sedang berlabuh di dekat rig di tengah laut. Mungkin sedang menyedot minyak dari rig. Konon, cadangan minyak di Seria ini dalam waktu 20 tahun lagi  akan habis.

Musium OGDC tak hanya menyimpan masa lalu Brunei. Lewat berbagai atraksi menarik seputar iptek yang dipamerkan di dalam musium itu,  serta program edukasi yang ditawarkan kepada murid-murid sekolah, OGDC menanamkan “semangat migas” kepada bocah-bocah Brunei agar melek iptek. Barangkali, jika suatu saat sumur-sumur minyak di Brunei kering, bocah-bocah itu nantinya diharapkan menjadi ahli-ahli migas di luar negeri.

IMG_0610Identitas keislaman Negara Brunei Darussalam ditunjukkan lewat dua buah mesjid raya. Yang satu berada di  Gadong, dekat Bandar Seri Begawan, dan satu lagi di Bandar Seri Begawan. Kedua mesjid ini dibangun oleh Sang Sultan.

Mesjid Jame Asr di Gadong, merupakan yang termegah, dibangun oleh Sultan Hassanal Bolkiah. Sedangkan Mesjid Omar Ali, merupakan peninggalan ayahnya.

Sementara itu, mesjid-mesjid lainnya, dibangun di tengah-tengah permukiman warga, hingga ke perdesaan oleh pemerintah kerajaan Brunei Darussalam.

Beberapa kali saya memasuki Mesjid Jame Asr. Ornamen dan struktur bangunan tampak begitu megahnya, dan cahaya lampu menyinari kubah-kubah di waktu malam. Bangunan mesjid ini menjadi penanda identitas Melayu Islam Ber-Raja atau “MIB” yang merupakan doktrin ideologi Negara Islam tersebut.

IMG_0621 Dalam sebuah siaran acara di salah satu kanal Radio Television Brunei, saya mengetahui sekilas mengenai MIB. Disebutkan bahwa bangsa Brunei adalah bangsa Melayu yang menjunjung tinggi agama Islam, dan menghendaki sebuah pemerintahan yang memiliki seorang raja.

Secara de facto, di Brunei sendiri terdapat etnis  lain di luar Melayu, pun komunitas non-muslim. Sebutlah, misalnya, etnis Iban atau Dayak, serta Cina. Kebanyakan dari mereka yang non muslim itu tinggal di dusun-dusun. Mereka biasa mengaku sebagai free thinker dalam urusan keyakinan.

Salah seorang dari etnis Iban yang saya kenal pernah mengatakan dirinya tidak berminat untuk memeluk agama kendati sebagian daripada saudara-saudaranya, atas inisiatif sendiri, banyak yang memeluk Islam.”Saya belum berminat,”ujar dia.

Karena MIB adalah ideologi, maka hal itu ditujukan kepada seluruh rakyat.

Sering saya mendengar di radio, berita tentang orang biasa yang dibaiat masuk Islam.  Hari dimana para mualaf mengucap dua kalimat syahadat menjadi sebuah acara yang ramai dan dipublikasikan lewat media massa.

IMG_0622 Mayoritas camat dan lurah (baca: Penghulu Mukim dan Ketua Kampong) telah memeluk agama Islam. Mereka merupakan kaki tangan Negara di level grass root yang membawa kepentingan Ideologi MIB. Tak pelak, sebagian besar dari mereka merupakan muslim, meskipun satu-dua ketua kampong masih berstatus free thinker.

Suatu ketika saya meminta advis kepada Penghulu Mukim. Ia merupakan pimpinan dari sebuah Mukim, dimana mukim itu membawahi beberapa kampung. Perjumpaan dengan dia berkaitan dengan  urusan negoisasi ganti rugi atas kerusakan tanaman akibat survey seismik yang kami lakukan.

“Bapak mau bagaimana perundingannya? Mau cara Islam, atau cara Cina?” tanyanya.

Saya tertegun. Lalu saya sampaikan apa yang kami mau.

“Oh, kalo begitu maksudnya dengan “Budi Bicara”. Itu perundingan cara Islam,”katanya.

Ia lantas membandingkannya dengan perundingan cara satunya lagi. “Itu namanya cara bisnis, cara Cina,” simpulnya.

Penghulu Mukim seperti dirinya memegang amanah dari Kerajaan untuk menyelesaikan berbagai perundingan diantara sesama anggota masyarakat yang sedang berperkara dan ingin menyelesaikannya dengan cara musyawarah dan kekeluargaan, atau tanpa melibatkan polisi dan Mahkamah pengadilan.

IMG_0652 Mesjid Sultan Omar Ali

Perundingan dengan cara Islam dilakukan dengan tujuan agar kedua belah pihak yang berperkara sama-sama merasa puas hati. Tak satu pihakpun dirugikan dari perundingan.

Para imam mesjid juga merupakan wakil-wakil kerajaan di tatanan masyarakat. Dalam sejumlah ceramah Jumat, persoalan sosial kemasyarakatan dan bagaimana anjuran pemerintah disampaikan lewat mimbar Jumat. Suatu ketika saya mendengar khotbah Jumat yang menganjurkan agar masyarakat tidak gengsi  bekerja di luar birokrasi. Pada saat yang lain, saya mendengar khutbah yang disisipkan pesan agar menjadi tentara semata-mata untuk bela negara dan bukannya karena motif mencari pekerjaan (dan gaji besar) saja.

Humas Lokal

IMG_5671 Pemberdayaan tenaga kerja lokal dalam proyek survey seismik mutlak dilakukan untuk      mendapatkan dukungan dari masyarakat dan pemerintah lokal. Kami di Tutong, Brunei Darussalam juga melakukan hal itu, antara lain, dengan menempatkan tenaga lokal pada pekerjaan kehumasan (public relation) selama survey seismik 3D berlangsung.

Humas lokal tersebut diambil dari kampung-kampung di sekitar area survey. Konsekuensinya, dari puluhan tenaga lokal yang direkrut, tak satupun yang pernah bekerja sebagai humas. Pun tak seorang dari mereka pernah bekerja di dalam proyek seismik. Problem!

Tak ayal, kondisi tersebut memberikan tantangan tersendiri bagi kami yang mengelola departemen humas. Para tenaga kerja tempatan (lokal) ini kerap bermasalah dengan persoalan kedisiplinan kerja. Sudah tak asing lagi mendengar alasan-alasan konyol seperti “menjemput anak di sekolah”, ” bangun kesiangan”, ” tidak ada yang membangunkan” dari mulut mereka saat mangkir kerja.

Bekerja merupakan suatu kebiasaan baru bagi orang Brunei yang selama ini dimanjakan oleh berbagai fasilitas kemudahan hidup layak oleh Sang Sultan. Baru belakangan ini saja, setelah Negara kesulitan menyediakan lapangan kerja di pemerintahan, banyak anak muda di Brunei melamar pekerjaan di sektor swasta. Pemerintah, lewat media massa maupun ceramah di mimbar Jumat, kini tengah gencar menyadarkan rakyatnya untuk tidak gengsi bekerja di sektor swasta, atau tidak bergantung pada harapan menjadi pegawai negeri sipil.

IMG_1358 Meski lapangan kerja kian sempit, namun Brunei masih menjadi tumpuan bagi tenaga kerja asing dari kawasan ASEAN. Namun demikian, tak semua calon tenaga kerja asing ini terserap ke dunia kerja. Bagi saya sendiri, Brunei bukanlah negeri yang menjanjikan harapan karir.

Tulisan Sebelumnya »