Catatan Adhie S. Achmad

Sebuah blog tentang pengembaraan, petualangan, dan impian-impian yang mengisi ruang kehidupan seorang mantan jurnalis.

Sisi Lain di Dunia Seismik

PEKERJAAN  BERBASIS  PROYEK menuntut kesabaran bagi para pelakunya. Contohnya para pekerja di dunia seismik data akusisi. Ada proyek, senang hati kiranya. Proyek berakhir, ya sabar-sabar aja, dan tawakal, menunggu datangnya proyek baru.

Saya sering menerima telpon, sms, pesan di chatbox, dari sejumlah teman yang dulu pernah sama-sama di dalam suatu proyek, dengan nada yang hampir sama. “Lagi di proyek mana, bro? Aku masih di rumah neh. Kalau ada lowongan, ajak-ajak dong..”

Pertanyaan seperti itu sulit dijawab, jika yang ditanya statusnya pun sama. Sama-sama sedang jobless atau standby menanti proyek baru!

Yang namanya standby, tidak kenal batasan waktu. Bisa berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau mungkin bertahun-tahun. Banyak sebab, orang seismik itu berstatus standby. Apapun sebabnya, yang jelas status standby itu nggak enak. Karena, penghasilan sudah pasti merosot drastis.

Oleh karenanya, sebagian orang seismik menjalani falsafah petani penggarap. Saat musim panen, dan musim tanam datang, mereka menggarap sawah. Ketika musim paceklik, mereka tak bersandar pada padi di sawah. Melainkan, bermigrasi ke kota menjadi buruh bangunan, atau berdagang kecil-kecilan dari modal hasil panenan.

Bekerja lalu berinvestasi. Bekerja lagi, tanam investasi lagi. Kebiasaan seperti itu merupakan suatu langkah cerdas untuk siapapun yang bekerja di dunia seismik. Sehingga, hasil dari proyek tidak menguap kemana-mana. Akan tetapi, itu menghasilkan barang modal yang suatu saat bakal menopang biaya-biaya selama sedang standby. Atau bahkan, untuk pensiun dini dari dunia seismik lalu beralih profesi menjadi seorang pengusaha.

Filed under: CATATAN dari SEISMIC SURVEYS

Dunia Kecil Kami

Orang-orang datang dan pulang. Tapi, selalunya berjumpa kembali di proyek berikutnya. Ada mobilisasi peralatan, ada mobilisasi orang. Serba “urgent”,  serba mendesak. Tapi, dilakukan dalam keteraturan, memiliki prosedur ketat.

Area kerja melintasi hutan “perawan”, perbukitan, menyebrangi sungai,  rawa-rawa, laut dangkal, perkampungan penduduk, jalan berlumpur, dan bahkan sampai ke pinggiran kota, melintasi jalan tol.

Begitulah dinamika kehidupan dalam sebuah dunia kecil bernama proyek akuisisi data seismik. Suatu kerja yang padat modal sekaligus padat karya, dengan tujuan pengumpulan data lapisan bawah permukaan bumi untuk digunakan para juragan memprediksikan ada tidaknya minyak bumi atau gas bumi.

Berminggu-minggu berada di lapangan, lalu diberi waktu cuti beberapa minggu. 8 minggu kerja, 2 minggu cuti. Tapi, jadwal tak selalu tepat. Suasana itu bisa bikin benci, tapi rindu, hanya untuk mereka yang bersedia menerima tantangan. Serta, punya kesempatan!

Semangat pagiii….. seismik !!!

Filed under: ALBUM FOTO, CATATAN dari SEISMIC SURVEYS

Kenzidane Luthfi Achmad

My Son Kenzidane

Filed under: ALBUM FOTO, MY FAMILY

Kuala Tungkal, Kota Kecil Nan Eksotis

KHUTBAH JUMAT sedang berlangsung ketika saya memasuki salah satu masjid di kota kecil Kuala Tungkal, Jambi, Jumat 2 Oktober 2009 lalu. Bergegas saya menuju tempat berwudhu. Tempat duduk dari coran semen yang dilapis keramik berjejer, terdapat di muka jejeran keran air wudhu. Itu mengingatkan saya pada masjid-masjid di Brunei Darussalam. Mesjid

Terkenang sholat Jumat di Brunei. Apalagi saat sang bilal melafadkan bacaan, disela dua khutbah Jumat itu. Terdengar persis dengan yang biasa saya dengar saat sholat Jumat di Brunei.

“Kayak di Brunei ya, ” komentar rekan saya.

Kuala Tungkal adalah bagian dari Indonesia. Kota ini berada di pesisir di timur laut Provinsi Jambi. Orang Melayu, Padang, Banjar, Bugis, Tionghoa, dan Jawa menempati kota itu.

Di sana terdapat pelabuhan yang menghubungkan Jambi dengan Semenanjung Malaka. Kapal-kapal menuju Batam berlayar lewat pelabuhan itu. Pasca bom Kuningan, ketika polisi memburu jaringan teroris  Noordin M.Top, pelabuhan Kuala Tungkal termasuk dalam daftar pelabuhan yang diawasi secara ketat.

Usai sholat Jumat, siang itu kami mencari restoran Padang rekomendasi seorang kawan. Ayam goreng kampung di resto tersebut konon kabarnya enak banget. Kami berputar-putar mencari Resto Gantino Baru, resto Padang itu. Sempat nyasar, namun akhirnya kami menemukannya juga. Letaknya dekat Mesjid Raya yang kubah mesjidnya dicat warna biru laut.

Rasa lapar setelah perjalanan jauh dari Muaro Jambi ke Tanjung Jabung Timur, kemudian lanjut ke Tanjung Jabung Barat, itu terlunasi setelah melahap seporsi ayam goreng kampung Resto Gantino Baru. Enak banget. Sumpah ! tungkal

Kuala Tungkal merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Keliling kota itu, saya terkesan. Eksotis! Terdapat perkampungan tradisional yang terdiri dari rumah panggung beratap seng dan genteng, pasar, kedai-kedai makan, toko-toko, bank, hotel, dan bangunan-bangunan bertingkat di sana. Bangunan-bangunan tersebut menempati blok demi blok yang saya kira cukup tertata rapih. Yang  tradisional dengan yang modern terlihat selaras.

Mobil, becak, sepeda motor, dan sepeda roda dua, melintas bersama di jalanan kota yang beraspal cukup mulus. Model becak di sana berbeda dengan becak di Pulau Jawa. Pengemudi becak berada di belakang jok penumpang, bukan di belakang.

Sarang  Burung  Walet

Bangunan-bangunan ruko setinggi tiga hingga empat lantai, dengan pintu rolling door yang tertutup rapat, banyak ditemui di Kuala Tungkal. Sekilas terkesan seperti sebuah toko yang tutup karena pemiliknya pulang kampung. Namun rupanya, “ruko-ruko” tersebut, adalah rumah yang dibangun untuk mengembangbiakkan sarang burung walet.

Sarang burung walet yang cukup mewah, seperti dalam gambar berikut,  dapat ditemui mulai dari awal masuk Kecamatan Tungkal Ilir hingga ke dalam kota Kuala Tungkal.

Industri peternakan sarang burung walet keliatannya menjadi primadona di sana. Terlihat bangunan untuk sarang burung walet yang jumlahnya cukup banyak tersebar di wilayah Kuala Tungkal.

Sayang, saya tidak memiliki cukup waktu untuk menggali informasi lebih lanjut mengenai keberadaan peternakan yang bernilai tinggi itu. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, kami harus segera kembali agar tak kemaleman tiba di basecamp kami di Mendalo, Kabupaten Muaro Jambi. Jarak tempuh Kuala Tungkal dengan Mendalo sekitar 3-4 jam lewat jalur darat Lintas Timur Sumatera.

Di lain waktu nanti, saya ingin sekali datang lagi ke Kuala Tungkal. Kota ini benar-benar sulit dilupakan. Eksotis. Apalagi karena belum mencoba resto-resto sea food Kuala Tungkal. Konon kabarnya maknyus! Jika monumen Kerang berdiri di sana,  kerang rebus dan hasil laut lainnya mungkin saja menjadi komoditas andalan di sana.

Filed under: JOURNEY

Statistik Blog Ini

STATISTIK BLOG merupakan salah satu menu dashboard yang menarik di WordPress. Di dalam menu tersebut, Anda bisa melihat pertumbuhan pengunjung blog anda dari hari ke hari. Satuan yang dipakai adalah page views.

WordPress menampilkan jumlah pengunjung dalam grafik page views harian, mingguan, dan bulanan. Jika dalam satu hari ada 100 page views, itu bermakna ada 100 IP Address yang mengunjungi blog tersebut. Satu IP Address bisa saja berisi 1 atau 10 user, atau bahkan 100 user, seperti misalnya di kantor-kantor dimana 1 IP di-share ke sejumlah komputer.

Bagi para blogger seperti saya, menu tersebut berguna untuk memacu gairah menulis. Ketika jumlah pengunjung menurun, saya tergerak untuk meng-upload blog dengan tulisan-tulisan baru yang mungkin menarik dan dibutuhkan oleh orang lain, sehingga menambah jumlah page views. Namun sebaliknya, dan ini keliatan jangan ditiru, ketika page views dalam satu hari lebih dari 100, maka saya terlena. Tidak menulis apapun!

Saat pertama dirilis pada Desember 2007, page views blog saya ini hanya 146/ bulan. Bulan berikutnya Januari 2008 mengalami lonjakan tajam, menjadi 1.119. Dan pada bulan September 2009 kemarin, mencapai 1.434 page views/bulan.

Sepanjang tahun 2008 – 2009, page views tertinggi terjadi pada bulan Januari 2009, yakni 1.710 page views/bulan. Pada bulan tersebut,  saya sedang berada di Brunei Darussalam, dan meng-upload tulisan dari sana.

Filed under: JOURNEY, OTHERS