ANCAMAN BAHAYA dari serangan binatang buas seperti ular dan buaya kerap mengintai para pekerja proyek survey seismik. Di Pulau Mangkudulis Kalimantan Timur bagian utara, dimana kami sedang mengerjakan survey seismik 3D sejak Desember 2009 lalu hingga 3 bulan ke depan, terdapat banyak buaya.
Pulau Mangkudulis berada tak jauh dari Pulau Tarakan. Jarak tempuhnya sekitar 1 jam perjalanan laut, menggunakan speedboat. Di pulau tersebut masih ditemui banyak buaya.
Mengantisipasi bahaya serangan buaya, Crew Elnusa Party A5.77 mengundang seorang pawang buaya untuk melakukan ritual doa selamat. Sesaji dibuat oleh sang pawang. Lalu dilarung ke sungai yang menjadi habitat buaya. Prosesi ini cukup menegangkan.
Buaya yang berada di dalam Pulau Mangkudulis itu hingga kini masih menjadi ancaman bagi para penjaga tambak udang. Beberapa waktu lalu, ditangkap 8 ekor buaya dari dalam tambak. Para pekerja seismik dari departemen Topografi menemukan telur-telur buaya dan jejak kakinya. Bahkan saat perahu boat (longboat) yang membawa kru Topografi melintas di sungai, seekor buaya besar sempat melompat ke arah perahu tersebut.
Memang penuh resiko pekerjaan mengakuisisi data seismik untuk keperluan eksplorasi minyak dan gas bumi ini. Di atas perumukaan bumi, ada buaya. Namun, kita harus bisa mengatasi bahaya tersebut untuk bisa mendapatkan kekayaan minyak dan gas bumi yang terkandung nun jauh di kedalaman perut bumi.
Filed under: CATATAN dari SEISMIC SURVEYS






















Komentar Terkini