Practice Makes Perfect
LATIHAN menulis sepuluh tahun silam. Agak konyol. Setiap hari, sebuah notes kecil dan pulpen tak pernah lepas kemanapun saya pergi. Di situ saya merangkai kata, membuat kalimat, berdasarkan apa saja yang saya temui di sekitar saya berada.
Saya membaca satu tips tentang alinea deskriptif dalam suatu tulisan. Disebutkan, agar alinea atau paragraf di dalam tulisan anda terlihat bertenaga maka gunakanlah kalimat aktif sesering mungkin. Selain itu, jangan terlalu sering menggunakan kata sifat.
Berbekal tips tersebut, saya berlatih menuliskan kalimat aktif, dan menghindari kata sifat, di notes tadi. Saat melihat (dan mendengar) sesuatu, langsung dibikin jadi kalimat berita. Uniknya, sesuatu hal yang saya tuliskan itu secara sifat, termasuk enggak penting!
Saat itu, bila saya ingin menulis: cewek itu cantik, maka saya tak bisa menuliskannya hanya dengan tiga kata tadi. Melainkan, saya harus bisa menggambarkan kecantikannya, secara deskriptif.
Maka, saat saya melihat sekawanan burung gereja yang tampaknya jorok, maka dengan tips itu saya menuliskannya begini: Sekelompok burung gereja pagi ini terbang melintas di depan saya, kemudian hinggap di dahan dan ranting pohon dekat rumah. Sebagian dari mereka turun ke tanah, mendekati tempat pembuangan sampah, lalu mengais sisa-sisa makanan di situ.
Ada juga catatan di notes saya waktu itu berbunyi: seorang teman mengatakan dia tidak suka pada si –X. Lalu saya tanyakan alasannya, dan dia menceritakan bla,bla,bla….
Setiap hari, lembar demi lembar notes saya terisi oleh catatan-catatan yang enggak penting kayak gitu. Tak seorang pun tahu soal itu. Teman-teman saya mungkin berpikir saya mencatat hal-hal yang penting, semacam catatan belanja harian, atau rumus-rumus matematika, fisika, atau sejenisnya. Hua,ha,ha…!
Setiap malam, catatan itu saya buka untuk dievaluasi. Bila masih ada kalimat pasif, ataupun kata sifat di dalam tulisan yang enggak penting itu, saya coret dan pikirkan ulang, seperti kata si pemberi tips dalam buku Vademikum Wartawan.
Ternyata, latihan sepele seperti itu membantu saya. Kecepatan saya menuliskan laporan mengenai suatu fakta peristiwa pun semakin cepat. Dan bos saya ketika itu, seorang redaktur, tak perlu pulang larut malam setiap hari karena terlalu lama menunggu saya menyetorkan tulisan reportase saya.
Latihan rutin, mendisiplinkan diri dalam berlatih, membuat anda semakin menjadi paripurna dalam menulis. Orang bule bilang, practice makes perfect.
Goodluck!
20 July 2008 at 3:41 pm
salam kenal bung. saya baru belajar menulis. tipsnya bagus untuk pembelajaran
23 July 2008 at 10:03 am
Semoga bermanfaat aja deh. Salam kenal juga, kawan baru. Thx mampir di blog ini.