UDARA BELUM BEGITU PANAS ketika kami tiba di Situs Percandian Muaro Jambi, Selasa pagi 22 September 2009 lalu. Angin sepoi-sepoi berhembus. Baru satu dua mobil dan beberapa sepeda motor tampak di halaman parkir, ketika Mitsubishi Strada Triton biru metalik yang kami tumpangi masuk ke sana. 
“Silakan, pak,” kata petugas parkir sembari tersenyum, menyambut kedatangan kami. Ia menampakkan wajah yang sangat bersahabat. Kami berbasa-basi sebentar.
“Berapa bayar parkirnya,” tanya bos kami.
“Ah itu terserah Bapak saja,” jawab si bapak penjaga parkir dalam logat Jambi yang kental. “Jangan lupo pintu-pintu (mobil) dikunci,” sambungnya.
Lalu kami berjalan menuju pintu masuk situs purbakala peninggalan kebudayaan Budha Tantri Mahayana itu. Tiket masuknya seharga Rp3,000,-/orang. Kami 4 orang dan seorang driver.
Berjalan sekira 100 meter dari gerbang tiket terdapat pos sekuriti. “Silakan mengisi buku tamu, pak,” ujar Pak Zubaidi atau “Pak Bibid”, penjaga pintu masuk.
Pak Bibid sangat ramah. Ia penduduk setempat yang sejak tahun 1980-an, oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (PB3) Jambi, dipekerjakan untuk menjagai situs Muaro Jambi.
“Kalau Bapak-bapak mau pakai motor untuk berkeliling, silakan. Ini ada dua motor. Pakailah,” ia menawarkan kepada kami.
“Berapa biayanya?” sahut kami.
“Ah itu terserah Bapak saja. Yang penting bapak-bapak bisa melihat-lihat dulua keadaan di sini. Bagi kami yang penting nantinya Bapak-bapak bisa menceritakan kepada teman-teman Bapak (bahwa) orang-orang di sini semuanya orang-orang baik,” ujarnya.
Ia lantas menceritakan apa yang diketahuinya tentang situs purbakala yang berada di tepian Sungai Batanghari. Pengetahuannya cukup membantu kami merasakan atmosfir masa lalu di situs tersebut.
Kami memang masih buta sama sekali mengenai situs itu. Apalagi, di sekitar area Percandian Muaro Jambi itu tak tersedia booklet atau pun leaflet informasi yang memuaskan rasa ingin tahu kami. Hanya ada sebuah peta yang menunjukkan lokasi candi-candi di sana.

*
SITUS PURBAKALA PERCANDIAN MUARO JAMBI memiliki pesona tersendiri. Kawasan 12 km2 itu ditumbuhi aneka pepohonan yang meneduhkan. Di dalam kompleks situs juga tersimpan aneka artefak kuno seperti arca, keramik, manik-manik, mata uang kuno, dan lain-lain. Selain itu, ada kolam kuno yang oleh penduduk setempat disebut Kolam Telago Rajo. Juga ada menapo atau gundukan tanah reruntuhan sisa bangunan kuno yang berjumlah lebih dari 60 buah.
Dibandingkan dengan situs-situs purbakala lainnya di Indonesia, Situs Muaro Jambi merupakan yang paling luas. Sejauh ini, sudah ditemukan 82 candi yang tersebar di area sepanjang 7,5 km membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari.
“Kalau mau puas mengunjungi semuanya, waktu 3 hari saja tidak cukup pak,” ujar Pak Bibid berseloroh.
Pemugaran dan rekonstruksi situs ini masih terus dilakukan. Dimulai sejak zaman Belanda hingga kini. “Dari 82 candi, baru 12 candi yang lahannya sudah dibebaskan,” terang Pak Bibid.
Yang menarik perhatian saya di Situs Muaro Jambi ini adalah adanya 6 buah kanal atau parit-parit kuno buatan. Penduduk setempat menamainya Parit Sekapung, Parit Johor, dan Sungai Melayu.
Meskipun sebagian besar parit itu sudah mengalami pendangkalan, namun apabila dipugar masih bisa digunakan sebagai sarana wisata purbakala.
“Beberapa tahun silam, penduduk setempat masih memanfaatkan alur-alur kanal kuno ini sebagai sarana transportasi dengan menggunakan sampan tradisional. Bukan tidak mungkin bahwa pada masa lalu kanal-kanal ini dibuat dengan alasan yang sama, yaitu sebagai sarana transportasi dan distribusi logistik, selain sebagai sistem drainase kawasan rawa. Ada pula yang menduga fungsi strategisnya sebagai sistem pertahanan kompleks percandian,” sebut situs Pemerintah Kota Jambi.
Untuk mencapai Situs Percandian Muaro Jambi, dari Kota Jambi melalui jalur darat, dibutuhkan waktu 30 menit ke arah timur Kota menuju Pelabuhan Talang Duku. Lalu dilanjutkan dengan jalur sungai menyebrai Sungai Batanghari ke Desa Muaro Jambi. 
Jalur lain, adalah melalui jalur memutar ke arah barat Kota Jambi, menyeberangi jembatan Aur Duri, dilanjutkan lewat Desa Jambi Kecil ke arah situs. Jarak tempuhnya sekitar 40 km.
Atau, jika anda ingin menikmati perjalanan menyusuri Sungai Batanghari, bisa jugadengan menyewa perahu ketek atau sebeng (speedboat) yang banyak dijumpai di pinggiran sungai tersebut dari tengah kota.
Kami yang berada di Kecamatan Jambi Luar Kota Kabupaten Muaro Jambi agak lebih cepat untuk mencapai lokasi situs tersebut.
* *
KAMI BELUM SAMPAI ke semua lokasi candi di Situs Percandian Muaro Jambi. Suatu saat jika ada waktu lebih longgar, keinginan untuk kembali mengunjungi area wisata purbakala tersebut sangat kuat.
“Saya suka, karena ada suatu hal yang berbeda dengan orang-orang di sini,” ujar Pak Harko, bos kami.
Menurut Pak Harko, dari sejumlah lawatannya ke Sumatera, terutama di Jambi dan Sumatera Selatan, amatlah jarang terdengar orang berkata,” terserah Bapak saja,” ketika ditanya soal besaran biaya.
“Tadi kan kita dengar, dari tukang parkir dan penjaga pintu, dia tidak meminta uang, apalagi sampai memaksa, dalam jumlah tertentu? Ini sangat jarang saya alami di Sumatera,” ujarnya.
Biasanya, lanjut Pak Harko, penduduk setempat menjadikan para pelancong pendatang sebagai obyek untuk dimintai uang. “Di sini kok ya saya rasakan berbeda,” lanjut bos saya ini.
Mudah-mudahan, di seluruh lokasi yang menarik di Sumatera, yang memiliki potensi wisata, semua orang bisa berlaku sopan dan ramah seperti tukang parkir dan Pak Bibid di Percandian Muaro Jambi. Dengan begitu, para wisatawan merasa aman dan nyaman berkunjung. Sehingga yang diuntungkan tentunya penduduk setempat, bukan?
Nah, kalau Anda datang ke sini bulan Desember nanti, ada program menarik yang ditawarkan. Yakni, berburu durian runtuh! Program ini diorganisir oleh pemuda lokal di sekitar Percandian Muaro Jambi. Konon, rasa duren MuaroJambi lebih enak dari duren Bangkok!
***